Uncategorized

Bank Mandiri, Kepercayaan Publik Bukan Taruhan

5
×

Bank Mandiri, Kepercayaan Publik Bukan Taruhan

Sebarkan artikel ini
Gedung Bank Mandiri.

BANK hidup dari satu kata: kepercayaan. Begitu kepercayaan runtuh, fondasi perbankan ikut goyah. Karena itu aksi DPN di depan Kantor BI Medan pada, Rabu (24/6/2026), bukan sekadar demo biasa. Itu alarm.

Alarm karena dana PT Toba Surimi Industries Rp123,3 miliar disebut raib. Alarm karena lelang aset PT BPSat diduga sarat kejanggalan: kredit Rp82 miliar, agunan Rp10 miliar. Rasio 8:1. Logika perbankan sehat mana yang membenarkan itu?.

DPN benar menuntut 8 poin. Inti tuntutannya cuma satu: buka dapur. Bank Mandiri sebagai BUMN, bank terbesar milik negara, harus jadi contoh tata kelola, bukan contoh kasus. Publik berhak tahu: siapa yang lalai, siapa yang bermain, dan dimana pengawasan internal tidur.

Kita paham, kredit macet dan pailit itu risiko bisnis. Tapi raib Rp123,3 miliar bukan risiko. Itu tanda. Tanda ada yang bolong di sistem. Tanda ada potensi insider fraud, penyalahgunaan wewenang, atau kelalaian berjamaah. Lelang aset yang merugikan kreditur lain, pekerja, bahkan negara, makin menguatkan tanda tanya.

OJK dan APH nggak bisa lagi pakai jurus menunggu data. Publik sudah menunggu berbulan sejak kasus ini mencuat. Hukum harus tajam ke semua arah. Jangan sampai stigma tajam ke bawah, tumpul ke atas kembali menguat. Kalau korporasi besar bisa lepas, lalu rakyat kecil mau percaya ke siapa?.

Bank Mandiri punya dua pilihan. Pertama, buka semua data. Audit investigatif independen, pecat oknum, kembalikan dana nasabah. Pilih ini, kepercayaan bisa dipulihkan. Kedua, bungkam dan tunggu badai. Pilih ini, maka setiap nasabah akan bertanya dalam hati: Uang saya aman nggak di sini?

Ingat, uang di bank bukan uang bank. Itu uang rakyat. Uang gaji buruh, uang dagang UMKM, uang pensiun. Titipan kepercayaan.

Editorial ini bukan vonis. Itu dorongan. Dorongan agar Bank Mandiri membuktikan dirinya layak disebut bank kebanggaan bangsa bukan hanya di iklan, tapi di akuntabilitas.

Karena sekali kepercayaan hilang, butuh puluhan tahun untuk membangunnya lagi. Dan bangsa ini sudah terlalu sering luka karena kepercayaan yang dikhianati. Ingat itu!. (*)