KOREKSI Sumut, Putusnya akses jalan pasca bencana alam banjir dan longsor yang melanda Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) dan Kota Sibolga, Provinsi Sumatera Utara (Sumut), membuat distribusi bantuan terkendala.
Hal tersebut membuat ribuan warga Kabupaten Tapteng dan Kota Sibolga harus berjalan kaki menuju Kecamatan Adiankoting, Tapanuli Utara (Taput), Rabu (03/12/2025).
Pasalnya, Kecamatan Adiankoting merupakan daerah terakhir yang bisa diakses melalui jalur darat. Warga Tapteng rela berjalan kaki seharian mencari bantuan makanan ke Tapanuli Utara, setelah lebih dari sepekan akses jalan darat ke sana terputus total.
Masyarakat dari sejumlah desa di Tapanuli Tengah datang berkelompok dan mulai tiba di Kecamatan Adiankoting pada tengah hari. Beberapa warga menceritakan kondisi mereka di Tapanuli Tengah yang saat ini tidak ada sambungan listrik, bahan bakar minyak, dan jaringan komunikasi.
Salah seorang warga Desa Naga Timbul, Kecamatan Sitahuis, Tapanuli Tengah, bernama Resti (47), menceritakan kondisinya yang rela berjalan kaki untuk mencari bantuan.
“Kami berjalan lebih dari 30 kilometer sejak pukul 07.00 tadi. Kami sudah kehabisan beras beberapa hari lalu,” kata Resti, dikutip, Kamis (04/12/2025).
Resti bersama suami dan dua anaknya beberapa hari belakangan hanya bisa memakan ubi karena persediaan beras sudah habis.
Tak tega melihat kondisi anak-anaknya, Resti dan suaminya nekat jalan kaki bersama anaknya ke Tapanuli Utara untuk mencari bantuan.
Warga di desa-desa terisolasi juga sudah kehabisan obat. Kecamatan Sitahuis merupakan daerah terdampak bencana yang cukup parah. Selain obat-obatan, kata Resti, bayi dan anak-anak di Kecamatan Sitahuis tidak punya stok susu, popok, dan obat-obatan anak.
Hal sama juga dialami Susi Juwita (40), warga Desa Rampa, Tapteng, yang mengaku kehabisan stok beras di rumahnya. Dengan menggunakan tongkat kayu, dia berjalan tertatih-tatih melewati jalan penuh lumpur bersama ratusan warga lainnya.
“Kami mendapat informasi, ada bantuan dari para perantau dari desa kami. Karena itu, kami berjalan kaki selama lima jam agar bisa mendapat bantuan,” kata Susi. (Red/54)






