Berita Utama

Perjalanan Risa Riskayanti Bersama Rumah Ceria Medan

19
×

Perjalanan Risa Riskayanti Bersama Rumah Ceria Medan

Sebarkan artikel ini

KOREKSI Medan, Menapak langkah awal dalam kegiatan Hari Anak Nasional (HAN) pada tahun 2014, ternyata dapat mempertemukan Risa Riskayanti dalam petualangan menyembuhkan luka bathin anak-anak difabel.

Sebagai Wakil Pendiri (Co-Founder) dalam pembangunan sekolah inklusi, perempuan yang akrab disapa Kak Risa itu juga merupakan mahasiswi alumni Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dari Universitas Sumatera Utara (USU).

Motivasi Risa berpartisipasi karena dengan membantu anak-anak tersebut ternyata berkesinambungan dengan pengobatan inner child beliau.

Pembangunan Sekolah Inklusi ini juga berangkat dari impian Risa bersama Rumah Ceria Medan untuk merealisasikan akses pendidikan setara serta menjadi bekal bagi anak-anak difabel di masa depan, bahwa mereka juga memiliki hak setara sesuai dengan karakteristik masing-masing demi memberantas stigma pengucilan kepada anak difabel.

“Memberikan akses pendidikan yang setara dan mengedukasi kalau setiap anak punya hak yang sama dengan ciri khas masing-masing, ini bisa menjadi bekal bagi anak-anak dimasa depan, untuk mencegah stigma terkait difabel itu perlu dikucilkan atau bilang kasihan. Karena mereka pada dasarnya sama seperti yang nondisabilitas selama aksesnya sudah terpenuhi,” ujar Risa dalam keterangan tertulis, Selasa (18/11/2025).

Perjalanan Risa berlanjut pada tahun 2015 kembali dalam penyelenggaraan HAN. Risa berkolaborasi dengan beberapa komunitas, lembaga yang juga mengampu konsentrasi bidang anak, salah satunya adalah wadah rumah baca dan kegiatan pengembangan softskill, yaitu Rumah Ceria dengan Yuli Yunika alias Uye yang saat itu merupakan representasi.

Pertemuan tersebut menjadi awal mula terjalinnya pertemanan serta kolaborasi antara Risa dengan Uye, kerap bertemu melalui keterlibatan antar komunitas dengan kegiatan HAN.

Tak sampai disitu, kolaborasi kedua sosok ini juga berlanjut dengan dukungan Risa membangun Rumah Ceria dari bahan daur ulang. Selain itu, Risa juga ikut membantu mempromosikan kegiatan sanggar. Namun, beliau yang harus kembali ke Jakarta menunda sementara kolaborasi tersebut.

Pada tahun 2018, Risa kembali bertemu dengan Uye dan mencanangkan Rumah Ceria menjadi Sekolah Inklusi. Beliau fokus untuk membantu segala keperluan profil perusahaan seperti logo, kop surat yang dibantu juga oleh teman Risa yang mahir dalam desain.

Kemudian, Risa juga membantu memenuhi fasilitas belajar seperti Reglet Iqro, dan Al Qur’an khusus untuk anak-anak difabel. Realisasi tersebut dapat dilakukan melalui dukungan dari jaringan sosial yang dimiliki oleh Risa, sehingga lahir Sekolah Inklusi yang menjadi wadah pendidikan, pendampinngan, beserta perlindungan bagi anak-anak difabel dengan nama Rumah Ceria Medan.

Dalam perjalanan membantu pengelolaan Sekolah Inklusi tersebut, Risa juga dihadapkan dengan beragam tantangan, seperti keterbatasan sumber daya dan pendanaan.

Saat pertama kali beroperasi Rumah Ceria Medan belum memiliki dana yang cukup untuk menunjang penghasilan guru, sementara kondisi sekolah membutuhkan dua guru karena kuantitas wadah mengajar dibuka sebanyak dua kelas.

Hal ini mendorong Risa untuk mengambil tanggungjawab sebagai guru pengganti sementara. Membangun kepercayaan dengan mitra eksternal dan donatur juga merupakan tantangan bagi Risa.

Terutama dengan posisi beliau sebagai salah satu perintis Rumah Ceria Medan membuat pencarian donasi sangat sukar. Melalui komunikasi yang baik serta komitmen oleh Risa membuat hubungan dengan pihak eksternal dapat terjalin dengan teratur.

“Jadi saya membuat laporan jelas tentang anggaran dananya kemana saja. Waktu itu kita pakai untuk merapikan kelas, toilet, membeli meja belajar untuk anak-anak juga, jadi semua pengeluarannya saya lapor dan foto kemudian dikirimkan kepada donatur, saya juga ajak mereka untuk observasi langsung proses pengerjaannya. Saya percaya kalau niat baik pasti akan baik pula hasilnya,” jelas Risa.

Risa juga melakukan founding dengan temannya untuk donasi anggaran dan juga barang, donasi ini digunakan untuk memenuhi sumber daya sekolah seperti merapikan perangkat sekolah dan distribusi dana pengajar.

Saat ini, Rumah Ceria Medan sudah mempunyai akses legal berupa akta Yayasan, Risa dalam akta Yayasan masih sebagai Sekretaris Yayasan.

Beliau juga masih terlibat dalam kegiatan Rumah Ceria Medan melalui pengadaan event seperti Camp Inklusi, Tuli Mengaji dan kegiatan relawan Yayasan.

“Harapannya kami bisa punya lahan sendiri kedepannya, jadi bisa membangun gedung permanen. Karena sekarang lahannya masih punya orang, dan sedang proses menjual, jika sudah laku sewaktu kami disuruh pindah, rencana saya saat ke Macau adalah mencari investor yang bisa membantu pembebasan lahan untuk Rumah Ceria Medan,” tutup Risa. (Red/03)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *