Oleh: Bung Danil dan S Purwadi Mangunsastro
DUNIA saat ini menghadapi keretakan akibat krisis multidimensional, mulai dari tantangan kapitalisme global, cengkeraman oligarki, hingga kemunduran moral. Selama ini, Indonesia cenderung diposisikan hanya sebagai pasar ekonomi, bukan sebagai penentu arah kebijakan global.
Untuk mengubah paradigma ini, Indonesia harus mengambil peran sebagai pemimpin dan penengah peradaban. Posisi strategis dan kemajemukan bangsa menjadi modal utama untuk mewujudkan visi tersebut.
Untuk keluar dari mental pengikut dan dominasi oligarki, diperlukan langkah operasional konkret melalui sintesis dua metode komplementer berbasis kearifan lokal, yakni kearifan Sundaland dan Tritangtu Dibuwana. Sinergi ini mencakup dua pendekatan utama.
1. Pendekatan Evolusi (Transformasi Halus)
Pendekatan ini berfokus pada pembangunan mental dan karakter secara perlahan dan berkesinambungan agar bangsa Indonesia siap menyongsong era baru. Langkah ini diwujudkan melalui:
-Pendidikan Karakter Holistik: Menerapkan sistem pembelajaran yang berlandaskan filosofi Jawa: Ngerti (kognitif), Ngroso (afektif), dan Nglakoni (psikomotorik), dengan tetap melestarikan kekayaan nilai kultural dari berbagai suku di Indonesia.
-Keteladanan Struktural: Menuntut para elite dan pemimpin negara untuk menjadi teladan utama melalui good governance, serta memiliki kemampuan berpikir visioner untuk jangka panjang (50-100 tahun ke depan).
-Literasi Etika Digital: Menyebarluaskan nilai kearifan lokal dan Pancasila sebagai identitas bangsa guna mewujudkan budaya digital yang beretika, berakhlak, dan beradab.
2. Pendekatan Revolusi (Perombakan Sistemik)
Diperlukan akselerasi cepat untuk merombak sistem yang rusak dan mengoreksi praktik demokrasi liberal yang elitis. Langkah korektif ini meliputi:
-Demokrasi Musyawarah: Mengganti politik kebisingan (sistem voting) dengan dialog partisipatif berbasis nilai Tritangtu Dibuwana.
-Kemandirian Ekonomi: Memutus rantai cengkeraman oligarki dengan mengembalikan esensi dan implementasi Pasal 33 UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Hal ini sekaligus menjadi fondasi utama bagi kemandirian strategis bangsa.
-Dewan Kecendekiawanan (Philosopher King): Membentuk dewan dari unsur masyarakat madani yang berfungsi sebagai pengawas (watchdog) sekaligus pencetak kader-kader pemimpin transformatif.
Kesimpulan
Prasyarat utama bagi Indonesia untuk memimpin peradaban dunia bukanlah sekadar kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Lebih dari itu, kuncinya terletak pada keberanian para elite dan rakyat untuk mendewasakan diri, meninggalkan politik transaksional, dan kembali mengamalkan nilai-nilai gotong royong yang otentik.
Indonesia harus membangun manusia berkarakter, sistem berkeadilan, ekonomi berdaulat, dan kepemimpinan yang berpijak pada kearifan Nusantara. Hanya dengan cara inilah, Indonesia dapat melakukan loncatan tampil sebagai pusat gravitasi baru yang menawarkan jalan peradaban alternatif bagi dunia. (*)












