KOREKSI Jakarta, PT Sugar Co atau PT Sinergi Gula Nusantara (PT SGN), mencatat kerugian Rp600 miliar lebih, atau sekitar Rp680 miliar pada tahun 2025. Kerugian itu disebut dampak dari impor gula yang tidak terkendali.
“Sugarco membukukan rugi Rp680 miliar akibat daripada harga yang memang tidak cukup baik, akibat daripada impor gula yang tidak terkontrol,” kata Kepala Badan Pengaturan BUMN, Dony Oskaria, dalam Rapat Kerja dengan Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (08/4/2026).
Menurut Dony, masuknya gula rafinasi impor menekan industri dalam negeri. Produk impor membanjiri pasar dan menghambat perkembangan produsen lokal. Dony menilai, persoalan tata kelola gula perlu penanganan serius.
Pasalnya kata Dony, kondisi ini berisiko akan terus berulang jika tidak segera dibenahi. “Kalau ini diteruskan, ini sulit untuk industri gula kita berkembang akibat daripada kebocoran-kebocoran daripada gula rafinasi yang masuk ke dalam pasar,” ujarnya.
BUMN bersama Kementerian Pertanian sempat membeli gula rakyat senilai Rp1,5 triliun pada tahun 2025. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk subsidi, serta mendorong swasembada gula nasional. Namun upaya itu dinilai belum efektif.
Menurutnya, dukungan regulasi diperlukan untuk mengatasi persoalan impor. Karena jika tidak, akan sulit untuk bisa menghadapi harga gula yang kemudian menjadi kebocoran impor gula rafinasi yang masuk ke dalam Masyarakat.
“Kalau tidak, menurut saya, akan sulit bagi kami untuk bisa menghadapi harga gula yang kemudian menjadi kebocoran daripada impor gula rafinasi yang masuk ke dalam masyarakat,” ungkapnya.
Sementara, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menyebut, produksi gula dalam negeri mencapai 2,67 juta ton. Angka ini belum mampu memenuhi kebutuhan nasional. Konsumsi gula tercatat 6,7 juta ton.
Rinciannya terdiri dari 3,9 juta ton untuk industri dan 2,8 juta ton untuk konsumsi. “Dengan demikian kita masih perlu 4,03 juta ton,” kata Amran. (Red/88)












