KOREKSI Jambi, Gubernur Jambi, Al Haris, buka suara soal video viral oknum guru bahasa Inggris di SMKN 3, Kabupaten Tanjabtim, Kecamatan Berbak, Jambi, berinisial AS, dikeroyok sejumlah anak didiknya.
Dalam video berdurasi 3 menit 28 detik itu, tampak seorang guru sedang adu argumen dengan sejumlah siswanya. Awalnya, mereka hanya cekcok mulut biasa. Namun, situasi mendadak ricuh. Sejumlah siswa lainnya hanya menyaksikan situasi yang semakin tidak terkendali.
Video lainnya yang diduga terjadi setelah kejadian pengeroyokan, juga beredar luas. Dimana, dalam video itu tampak sang guru mengejar para anak didiknya sembari menenteng senjata tajam.
Video viral tersebut menuai perhatian Gubernur Jambi, Al Haris. Bahkan, Al Haris menegaskan, bakal menjatuhkan sanksi kepada guru bahasa Inggris tersebut jika terbukti bersalah.
“Kalau gurunya salah kita berikan sanksi. Kalau memang perkataan dia tidak patut sebagai seorang guru maka akan ditindak,” kata Al Haris, Kamis (15/1/2026).
Al Haris menekankan pentingnya menjaga nama baik dunia pendidikan dan akan mengambil tindakan tegas agar masalah itu tidak meluas serta mengganggu proses belajar mengajar.
Ia juga menegaskan, siswa tidak dibenarkan menghakimi guru dengan kekerasan. Menurutnya, penyelesaian masalah ini harus dilakukan secepatnya melalui mekanisme mediasi secara kekeluargaan.
Haris telah menginstruksikan pihak Dinas Pendidikan Provinsi Jambi untuk menggelar rapat mediasi dengan orangtua siswa, guru, camat, dan pihak kepolisian.
Sebelumnya, AS telah mendatangi Kantor Dinas Pendidikan Provinsi Jambi untuk memberikan klarifikasi terkait insiden pengeroyokan yang menimpanya.
AS merasa perlu memberikan penjelasan objektif agar publik tidak tergesa-gesa menyimpulkan peristiwa yang sebenarnya terjadi di lapangan sekolah tersebut.
“Awalnya saya dipanggil dengan kata-kata kasar oleh siswa. Saya datangi, lalu saya tampar sebagai bentuk pembelajaran,” kata AS, Rabu (14/1/2026).
Insiden yang terjadi, Selasa (13/1/2026) pagi itu bermula saat AS yang sedang berjalan di lingkungan sekolah merasa dilecehkan secara verbal oleh salah seorang siswa.
AS mengaku mendengar kata-kata yang dianggap sangat tidak sopan dan merendahkan martabatnya sebagai seorang tenaga pendidik. AS kemudian menghampiri kelas sumber suara tersebut untuk mencari tahu siapa pelakunya.
Ketika seorang siswa mengakui perbuatannya dengan gestur yang menantang, AS mengaku refleks melakukan tindakan fisik satu kali sebagai bentuk teguran spontan. “Itu refleks, satu kali tamparan. Itu awal kejadiannya,” kata Agus.
Setelah kejadian tersebut, suasana sekolah menjadi tidak kondusif. Para siswa dilaporkan terus menantang AS hingga waktu pulang sekolah.
Meski sempat dilakukan mediasi di ruangan yang dilengkapi CCTV, situasi justru berakhir ricuh saat AS dikeroyok oleh sejumlah anak didiknya dari berbagai angkatan, mulai dari kelas 1, 2 hingga 3.
Meski menjadi korban kekerasan fisik, AS mengaku masih menimbang untuk menempuh jalur hukum. Ia merasa berat hati jika harus melaporkan anak didiknya sendiri ke pihak kepolisian. (Red/66)












