KOREKSI NTT, Kericuhan dalam rapat paripurna kembali terjadi. Teranyar, terjadi di Kantor DPRD Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT), Rabu (17/12/2025).
Insiden bermula saat Wakil Ketua DPRD Ende, Flavianus Waro memberi kesempatan terhadap fraksi-fraksi mengajukan pertanyaan kepada Bupati Ende, Yosef Benediktus Badeoda.
Ketua Fraksi PKB, Kadir Mosabasa kemudian mengajukan pertanyaan kepada bupati, apakah ada perubahan dalam postur APBD tahun 2025. Kadir terus mendesak Bupati Yosef menjawab pertanyaannya.
Namun, Bupati Yosef yang duduk di meja pimpinan DPRD Kabupaten Ende berharap agar semua anggota DPRD mengajukan pertanyaan terlebih dahulu dan dijawab secara kolektif.
“Ini agenda yang disampaikan ada dua, yang pertama penyampaian pertanyaan seluruh anggota dewan, setelah itu baru tanggapan dari kepala daerah dan pemerintah, saya ingatkan pimpinan bahwa ini agenda yang perlu ditaati sehingga tidak terjadi debat kusir,” ujar Bupati Yosef.
Mendengar jawaban Yosef, Kadir tetap memintanya untuk menjawab pertanyaannya terlebih dahulu. Namun Bupati Yosef juga tetap mempertahankan pada agenda rapat. “Hal-hal itu akan segera saya jawab, tidak sulit, hanya saya minta,” katanya.
Tetapi, Kadir langsung menyela, dan mendesak bupati agar menjawab pertanyaannya. Kemudian, Bupati Yosef meminta Kadir agar tidak berteriak saat menyampaikan pendapat dan pertanyaan.
Mirisnya, permintaan tersebut membuat Kadir naik pitam. “Saya tidak teriak Pak Bupati, saudara Bupati, saya tidak pernah teriak,” katanya, sembari menggebrak meja.
Meski salah satu anggota DPRD Kabupaten Ende sempat datang menenangkan, namun tidak menyurutkan emosi politisi PKB tersebut.
Wakil Ketua DPRD Kabupaten Ende, Flavianus Waro yang memimpin jalannya rapat paripurna mencoba menenangkan Kadir. Beberapa anggota DPRD lainnya juga ikut memberikan pendapat dan meminta pimpinan sidang menjaga marwah lembaga DPRD.
Di tengah situasi yang tidak kondusif, Plt Sekda Kabupaten Ende, Hiparrkus Heppy dan beberapa ASN langsung maju kedepan meja pimpinan DPRD untuk mengevakuasi Bupati Yosef Badeoda meninggalkan gedung DPRD.
Ironisnya, hal tersebut malah memancing emosi sejumlah anggota DPRD. Mereka menilai tindakan tersebut tidak menghargai rapat paripurna dan lembaga DPRD.
Bahkan beberapa anggota DPRD Ende terlihat membanting microphone dan melempar papan nama hingga mengenai plakat burung Garuda yang terpasang di depan ruang sidang. (Red/45)






