Berita Utama

Cerita Penjaga Jeruji Besi Lapas Perempuan

7
×

Cerita Penjaga Jeruji Besi Lapas Perempuan

Sebarkan artikel ini

KOREKSI Medan, Bermula dari iseng, SA dan AE kini harus berinteraksi hampir setiap harinya dengan para narapidana. Mulanya, kedua perempuan ini hanyalah mahasiswa, yang kesehariannya belajar di kampus, mengerjakan tugas, dan bermain bersama teman.

Baik SA maupun AE belum ada yang memiliki pengalaman bekerja sebelumnya. Mendaftar bekerja untuk pertama kalinya, keduanya memilih mengambil formasi sebagai penjaga tahanan para Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) di Lapas Perempuan Kelas IIA Medan dengan tupoksi kerja sehari-hari sebagai penjaga dan membina para WBP.

Sebagai penjaga lapas, SA dan AE tentunya sering berinteraksi dengan para WBP yang jumlahnya lebih dari enam ratus orang hampir setiap hari.

Keluarga keduanya, meski senang karena anak-anaknya sudah mulai merintis dunia kerja di usia cukup muda, tentu miliki kekhawatiran, terlebih ini juga pengalaman pertama mereka memasuki penjara dan langsung untuk bekerja pula.

“Sampai sekarang sebelum berangkat kerja, keluarga masih sering kasih pesan untuk jaga diri dengan baik saat bekerja. Kekhawatiran keluarga, sih, lebih kepada takut saya ikut terbawa arus sifat buruk yang pernah dilakukan para narapidana karena kasus seperti itu pernah terjadi, dan saya ceritakan pada keluarga. Jadi sekarang, setiap hari pasti dikasih pesan seperti itu,” cerita AE dalam keterangan tertulis, Selasa (25/11/2025).

Keluarga memberi dukungan penuh pada SA dan AE dalam bekerja. Mengetahui pekerjaan keduanya tidak mudah, keluarga tentu berikan nasihat dan dengarkan cerita keseharian mereka dalam bekerja.

Cerita lucu, hingga tekanan yang dialami SA dan AE diceritakan kepada keluarga mereka, guna mengurangi kekhawatiran dan memberi percaya lebih kepada keluarga.

Terlebih, yang dihadapi oleh para penjaga lapas adalah mereka-mereka yang memiliki catatan yang dinilai cukup parah hingga harus dijebloskan ke penjara. Tak jarang, SA maupun AE merasa tertekan saat bekerja.

Keduanya harus sabar menghadapi segala tingkah laku para WBP, mulai dari yang baik-baik saja, hingga pada para tahanan yang kerap merasa tertekan hingga sedikit terganggu kejiwaannya.

SA mengungkap bahwa selama bekerja, paling sulit menghadapi WBP isolasi, narapidana dengan ruang khusus, tidak bisa dicampur dengan narapidana lainnya.

Para WBP isolasi umumnya berisi orang-orang dengan gangguan mental, yang sekiranya dapat membahayakan jika digabung dalam satu sel dengan WBP lainnya.

“Ketika dijatuhi vonis, dan mereka sadar waktu tahanan mereka lama, ada yang jadi stres dan tertekan, sehingga sifatnya mudah mengamuk. Jika sudah begini, rasanya saya seperti menjadi psikolog dadakan bagi mereka. Saya juga tidak bisa menyamakan sikap saya ketika menghadapi beliau dengan WBP lainnya. Saya harus jadi lebih sabar, ya seperti berbicara dengan anak kecil. Dikasih tau pelan-pelan, tidak bisa dimarahin, kan,” jelas SA.

Sedang AE, miliki pengalaman yang berbeda. Bekerja di usia muda, membuat AE merasa lebih tertekan karena fakta tersebut. Banyak WBP dengan usia yang jauh lebih tua dari AE, dan beberapa kali AE kesulitan menghadapi mereka.

Dirinya kadang merasa diremehkan sebab usianya yang jauh lebih muda. Para WBP tidak menurut pada AE, dan membuat AE harus meminta bantuan rekannya dalam menghadapi mereka.

“Saya pernah bertengkar, semacam adu mulut, dengan salah satu WBP. Sebabnya karena beliau tidak mau ketika disuruh masuk ke dalam sel saat waktu tutup. Saya sedikit diremehkan karena usia yang masih terlampau muda jika dibandingkan dengan beliau, sehingga diabaikan segala ucapan dan perintah saya,” ungkap AE.

SA juga bercerita, bagian paling sulit dalam pekerjaannya adalah mengatur perasaan sendiri agar tidak ikut terpancing untuk memarahi para WBP tersebut. Beberapa kali, ia masih sulit mengontrol diri sendiri hingga tanpa sadar melampiaskan segala amarah dalam dirinya kepada para WBP.

Seiring berjalannya waktu, SA mulai menjaga profesionalitasnya dalam bekerja, tidak lagi mencampuradukkan masalah pribadi dengan pekerjaannya, meski SA sendiri cukup tertekan dengan hal itu.

“Kita, kan, nggak tau ya, gimana mood kita sehari-hari. Bisa aja hari itu kita lagi sedih ataupun marah, lagi nggak pengen diganggu, lagi mau tenang. Tapi, ya, setibanya di tempat kerja, harus senyum lagi, harus sabar lagi. Kadang kalau ada WBP yang cekcok, ya nggak bisa ikutan marah buat nengahin mereka. Harus lagi-lagi sabar, dan hadapi dengan kepala dingin,” katanya.

Namun, SA dan AE juga bercerita bahwa ada banyak hal menyenangkan yang mereka dapat ketika bekerja. Ketika berinteksi dengan para WBP, para penjaga terkadang terasa seperti teman bagi mereka.

Tak jarang terjadi sesi curhat bersama antar mereka di waktu-waktu tertentu. Tidak semuanya menyeramkan, banyak WBP yang sifatnya baik dan penurut. Didapat pula cerita lucu dan unik yang mereka dengarkan dari para WBP. Sifat-sifat mereka yang beragam kadang turut menjadi hiburan bagi SA dan AE dalam bekerja. (Red/03)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *